Skip to main content

Kisah Dakwah Rasulullah SAW di Thaif

Suatu saat, Rasulullah SAW bertemu dengan penduduk Thâ’if. Beliau langsung menawarkan agama Islam kepada mereka, tapi ajakan tulus itu ditolak mentah-mentah. 

“Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?” kata salah satu di antara mereka. 

Rasulullah SAW tak memaksa mereka. 

“Jika kalian menolak memberikan perlindungan dan masuk Islam janganlah kalian mengabarkan kepada Quraisy bahwa aku datang untuk minta pertolongan.” 

Di luar dugaan, permintaan itu juga ditolak penduduk Thâ’if. Akhirnya, Nabi SAW mengajukan permohonan terakhir. 

“Jika kalian menolak, biarkan aku pergi,” ujar Nabi saw dengan lembut. 

“Demi Allah, engkau tidak akan bisa keluar sampai engkau dilempari dengan batu. Agar engkau tidak akan pernah kembali lagi ke sini, selamanya,” teriak mereka. 

Dengan cepat, penduduk Thâ’if membentuk dua barisan. Sejurus kemudian, mereka membungkukkan badan untuk mengambil batu. Tangan mereka kini telah penuh dengan batu keras. Jumlahnya banyak. Setiap orang telah siap melempari Rasulullah saw dengan batu yang tergenggam di tangan.

Untuk beberapa saat, Nabi SAW dan Zaid bin Hâritsah tak bergerak. Mereka tak menduga dengan situasi yang berubah cepat. Batu-batu mulai dilontarkan. Nabi SAW dan Zaid berusaha lari. 

Batu-batu itu beterbangan menuju tubuh Nabi SAW dan Zaid. Keduanya terus berusaha menyelamatkan diri mencari tempat persembunyian, tetapi mereka kalah cepat. Batu-batu itu silih berganti mendarat di kepala dan sekujur tubuh mereka. 
Nabi SAW tak dapat lagi mengelak. Zaid berusaha menggunakan tubuhnya untuk melindungi Rasulullah SAW, tetapi sia-sia saja. Batu itu datang bak hujan deras yang turun dan langit, menghujam tubuh beliau tak kenal henti.

Mereka melempar batu yang diarahkan ke pembuluh darah di atas tumit Nabi SAW sehingga kedua sandal beliau SAW basah bersimbah darah. Darah segar mulai mengucur dari tubuh Rasulullah SAW. 

Manusia mulia itu rerus berlari menghindari amukan penduduk Thâ’if, hingga Rasulullah SAW berlindung di balik tembok milik ‘Utbah dan Syaibah, dua orang putra Rabi’ah, yang terletak tiga mil dari kota Thâ’if. 

Setelah merasa aman, Nabi SAW menghampiri sebuah pohon anggur lalu duduk di sana. Di tempat itu, Rasulullah SAW berdo'a sambil menahan sakit yang mulai menjalar di tubuhnya.

“Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku dan sedikitnya usahaku serta kehinaan diriku dihadapan manusia. Engkaulah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku. Kepada orang yang jauh yang menyerangku ataukah kepada Zat yang dekat yang mengatur urusanku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Aku berlindung terhadap cahaya wajah-Mu Yang menerangi kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat, dan kemurkaan-Mu yang akan Kautimpakan kepadaku. Engkaulah Yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya dan upaya selain dan Engkau.”

Nabi SAW tidak menyadari bahwa gerak-geriknya diperhatikan dua putra Rabi’ah. Keduanya tak tega melihat penderitaan yang dialami Rasulullah SAW.

Lalu mereka memanggil ‘Addas, seorang hamba beragama Nasrani yang mengabdi pada mereka.  “Ambillah setandan anggur ini dan bawakan untuk orang tersebut!” kata keduanya.

Anggur itu diberikan kepada Rasulullah SAW yang kemudian mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian tersebut.

“Bismillah,” ucap Muhammad SAW sesaat seusai menerima anggur itu dan lalu memakannya.

‘Addas terperanjat. Ia tidak pernah mendengar perkataan itu sebelumnya.

“Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini.”

“Kamu berasal dan negeri mana? Dan apa agamamu?” tanya Nabi SAW.

“Aku seorang Nasrani dan penduduk Nina-wy (Nineveh/Persia),” jawab ‘Addas.

“Itu negeri seorang salih bernama Yunus bin Matta,” kata Rasulullah SAW.

‘Addas semakin penasaran.

“Apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?”

“Dia adalah saudaraku, seorang nabi, demikian pula dengan diriku.”


‘Addas tertegun. Ia terkejut mendengar jawaban itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung merengkuh kepala Rasulullah SAW. Ia juga mencium kedua tangan dan kedua kaki Nabi SAW. Sementara, kedua putra Rabi’ah menyaksikan adegan itu dengan penuh keheranan. Ketika ‘Addas datang, keduanya berujar,

“Celakalah dirimu! Apa yang terjadi denganmu?”

“Wahai tuanku! Tiada sesuatu pun di bumi ini yang lebih baik daripada orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi,” jawab ‘Addas.

“Celakalah dirimu, wahai ‘Addas! Jangan biarkan dia memalingkanmu dari agamamu! Sebab agamamu lebih baik daripada agamanya,” kata mereka berdua. (Ibnu Hisyam).


Hari mulai gelap, malam menghamparkan tabirnya. Rasulullah SAW dan Zaid keluar dari persembunyian, menahan lapar dan dahaga, merasakan kepedihan, kepenatan, dan duka lara. 

Keduanya memutuskan untuk kembali ke Makkah. Rasa getir dan sedih mengiringi keduanya. Disiksa di Makkah, diusir dari Thâ’if, dan kini harus kembali ke Makkah. Namun, masuk Islamnya ‘Addas, seorang budak Nasrani, membuat semangat keduanya kembali berkobar. 

Keduanya tiba di Qarnul Manazil saat derita dan nestapa mencapai puncaknya. Rasulullah SAW menengadahkan wajahnya ke langit, dilihatnya awan berarak, dan tiba-tiba Jibril menampakkan diri seraya menyampaikan salam. Allah mengutus Jibril bersama malaikat penjaga gunung yang menunggu perintahnya untuk meratakan al Akhasyabain (dua gunung di Makkah, yaitu Gunung Abü Qubais dan yang di seberangnya, Qaiqa’ân) terhadap penduduk Thâ’if. 


“Wahai Muhammad, Tuhan mengizinkanmu untuk menimpakan dua gunung itu pada penduduk Tha’if.” 

“Jangan. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang mengucapkan (kalimat) Tiada Tuhan selain Allah dari rahim mereka,” jawab Rasulullah SAW. 

Peristiwa itu membuat hati Nabi SAW menjadi tenteram. Perjalanan diteruskan hingga sampai ke lembah Nakhlah (pohon kurma). Selama beberapa hari, Nabi SAW dan Zaid berdiam di sana. Di sinilah Nabi SAW didatangi jin yang berasal dan Nusaybin. 

Gumpalan awan kegetiran, keputusasaan, dan kesedihan yang tidak henti membebani Nabi SAW sejak keluar dari Thâ’if perlahan sirna. Tekad beliau telah bulat, kembali ke Makkah untuk memulai langkah baru. 

Namun, Zaid bin Haritsah mempertanyakan keinginan Nabi SAW itu. 

“Bagaimana bisa engkau kernbali menemui mereka, sedangkan mereka telah mengusirmu?” tanya Zaid. 

“Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan menjadikan apa yang engkau lihat sebagai kemudahan dan jalan keluar. Sungguh, Allah akan menolong agama-Nya dan akan memenangkan Nabi-Nya,” beliau memberikan jawaban. 


Foto : Tribute Perjalanan Ibadah Haji 2025 / 1446 H
Bismillah Budhal, Bismillah Umroh & Haji | IG : @arifprasetyo.aji | Tiktok : @arifprasetyoaji

Comments

Popular posts from this blog

Teman Sejati

Selama ini ku mencari cari teman yang sejati buat menenami perjuangan suci Bersyukur kini padamu Illahi, teman yang dicari selama ini telah kutemui Dengannya disisi, perjuangan ini senang diharungi, bertambah murni kasih Illahi Kepadamu Allah kupanjatkan do’a, agar berkekalan kasih sayang kita Kepadamu teman kupohon soskongan, pengorbanan dan pengertian Tlah kuungkapkan segala-galanya, itulah tandanya kejujuran kita (Syair Nasyid “Teman Sejati”-Brothers) Saya sangat ingat betul dengan lirik lagu ini, karena pada saat booming album “brothers” ini, kami bersepeluh orang dari FSLDK melakukan perjalanan Jakarta-Padang PP. Dan sepanjang perjalanan itu yang berkumandang di mobil hanya kaset milik Mas Brothers ini. Dan hitsnya adalah ”Teman Sejati” ini. Teman dan sahabat sangat dibutuhkan manusia. Senyum saja andaikata tidak dengan temannya, bisa disangka yang tidak-tidak bahkan barangkali ada yang nyelethuk ”gila kali”. Dengan teman dan sahabat, tidak hanya senyum yang dapat kita l...

Cangkrukan Arek Sipil ITS ’96 (S-39)

Ketika kita melakukan silaturrahim maka kita harus ingat dengan pesan Rasulullah SAW, bahwa barang siapa yang melakukan silaturrahim maka akan bertambah umurnya dan juga bertambah rizqinya. Jadi acara reuni adalah bagian dari aktifitas silaturrahim ini, semoga acara ini bisa mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah SWT. Alhamdulillah akhirnya Alumni Teknik Sipil ITS Tahun 1996 bisa melakukan reuni pertamanya setelah hampir sepuluh tahun lalu keluar dari kampus ITS Sukolilo . Reuni kemarin diberi tajuk “Cangkrukan Arek Sipil ITS ‘96” yang dilaksanakan pada hari ahad tanggal 17 juli 2010 di Swimming Pool & Cafe Perumahan Permata Jingga , Malang. Kebetulan yang menjadi host acara alias panitia adalah saudara Agusta Indrayana dan Yusuf Luqman. Acara kemarin terasa semarak untuk ukuran sebuah acara reuni yang digelar pertama kalinya di Malang lagi he...he. Meskipun yang hadir kemungkinan hanya sepertiga dari alumni tapi ada keluarga yaitu suami/istri dan anak-anak yang mengiku...

Sharing Dengan Mahasiswa

Pekan ini, ada dua kampus yang harus saya kunjungi untuk memenuhi undangan organisasi kemahasiswaan dalam rangka pelatihan mahasiswa. Yang pertama adalah Sabtu kemarin saya bertandang ke almamater Kampus ITS , untuk memberikan sharing di acara PSI 2 (Program Studi Islam 2) yaitu pelatihan yang diperuntukkan bagi calon middle manager di JMMI (Jama’ah Masjid Manarul ‘Ilmi) ITS Surabaya. Ada pemandangan yang berbeda ketika saya mulai memasuki area kampus ITS terutama disekitar rektorat dan perpustakaan (tempat acara PSI 2 berlangsung). Tidak biasanya hari libur, mahasiswa mau bersusah payah ke kampus, tapi siang itu terlihat kelompok-kelompok mahasiswa dengan ditemani notebook-nya masing-masing. Ya wajar saja, ITS sudah menyediakan hotspot di beberapa titik di area kampus, sehingga mahasiswa begitu keranjingan untuk datang ke kampus menikmati fasilitas internet tadi. Kembali ke PSI 2, saya diminta menyampaikan materi dengan tema Manajemen Organisasi & Optimalisasi Peran Ma...