“Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku dan sedikitnya usahaku serta kehinaan diriku dihadapan manusia. Engkaulah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku. Kepada orang yang jauh yang menyerangku ataukah kepada Zat yang dekat yang mengatur urusanku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Aku berlindung terhadap cahaya wajah-Mu Yang menerangi kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat, dan kemurkaan-Mu yang akan Kautimpakan kepadaku. Engkaulah Yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya dan upaya selain dan Engkau.”
Nabi SAW tidak menyadari bahwa gerak-geriknya diperhatikan dua putra Rabi’ah. Keduanya tak tega melihat penderitaan yang dialami Rasulullah SAW.
Lalu mereka memanggil ‘Addas, seorang hamba beragama Nasrani yang mengabdi pada mereka. “Ambillah setandan anggur ini dan bawakan untuk orang tersebut!” kata keduanya.
Anggur itu diberikan kepada Rasulullah SAW yang kemudian mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian tersebut.
“Bismillah,” ucap Muhammad SAW sesaat seusai menerima anggur itu dan lalu memakannya.
‘Addas terperanjat. Ia tidak pernah mendengar perkataan itu sebelumnya.
“Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini.”
“Kamu berasal dan negeri mana? Dan apa agamamu?” tanya Nabi SAW.
“Aku seorang Nasrani dan penduduk Nina-wy (Nineveh/Persia),” jawab ‘Addas.
“Itu negeri seorang salih bernama Yunus bin Matta,” kata Rasulullah SAW.
‘Addas semakin penasaran.
“Apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?”
“Dia adalah saudaraku, seorang nabi, demikian pula dengan diriku.”
‘Addas tertegun. Ia terkejut mendengar jawaban itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung merengkuh kepala Rasulullah SAW. Ia juga mencium kedua tangan dan kedua kaki Nabi SAW. Sementara, kedua putra Rabi’ah menyaksikan adegan itu dengan penuh keheranan. Ketika ‘Addas datang, keduanya berujar,
“Celakalah dirimu! Apa yang terjadi denganmu?”
“Wahai tuanku! Tiada sesuatu pun di bumi ini yang lebih baik daripada orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi,” jawab ‘Addas.
“Celakalah dirimu, wahai ‘Addas! Jangan biarkan dia memalingkanmu dari agamamu! Sebab agamamu lebih baik daripada agamanya,” kata mereka berdua. (Ibnu Hisyam).
Hari mulai gelap, malam menghamparkan tabirnya. Rasulullah SAW dan Zaid keluar dari persembunyian, menahan lapar dan dahaga, merasakan kepedihan, kepenatan, dan duka lara.
Keduanya memutuskan untuk kembali ke Makkah. Rasa getir dan sedih mengiringi keduanya. Disiksa di Makkah, diusir dari Thâ’if, dan kini harus kembali ke Makkah. Namun, masuk Islamnya ‘Addas, seorang budak Nasrani, membuat semangat keduanya kembali berkobar.
Keduanya tiba di Qarnul Manazil saat derita dan nestapa mencapai puncaknya. Rasulullah SAW menengadahkan wajahnya ke langit, dilihatnya awan berarak, dan tiba-tiba Jibril menampakkan diri seraya menyampaikan salam. Allah mengutus Jibril bersama malaikat penjaga gunung yang menunggu perintahnya untuk meratakan al Akhasyabain (dua gunung di Makkah, yaitu Gunung Abü Qubais dan yang di seberangnya, Qaiqa’ân) terhadap penduduk Thâ’if.
“Wahai Muhammad, Tuhan mengizinkanmu untuk menimpakan dua gunung itu pada penduduk Tha’if.”
“Jangan. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang mengucapkan (kalimat) Tiada Tuhan selain Allah dari rahim mereka,” jawab Rasulullah SAW.
Peristiwa itu membuat hati Nabi SAW menjadi tenteram. Perjalanan diteruskan hingga sampai ke lembah Nakhlah (pohon kurma). Selama beberapa hari, Nabi SAW dan Zaid berdiam di sana. Di sinilah Nabi SAW didatangi jin yang berasal dan Nusaybin.
Gumpalan awan kegetiran, keputusasaan, dan kesedihan yang tidak henti membebani Nabi SAW sejak keluar dari Thâ’if perlahan sirna. Tekad beliau telah bulat, kembali ke Makkah untuk memulai langkah baru.
Namun, Zaid bin Haritsah mempertanyakan keinginan Nabi SAW itu.
“Bagaimana bisa engkau kernbali menemui mereka, sedangkan mereka telah mengusirmu?” tanya Zaid.
“Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan menjadikan apa yang engkau lihat sebagai kemudahan dan jalan keluar. Sungguh, Allah akan menolong agama-Nya dan akan memenangkan Nabi-Nya,” beliau memberikan jawaban.
Comments